Tuesday, December 24, 2013

LAB 5 Analisa unjuk kerja routing protocol OSPF

Open Shortest path First (OSPF) adalah sebuah routing protocol standar yang terbuka yang telah di implementasikan oleh sejumlah besar vendor jaringan, termasuk Cisco. OSPF sendiri diklasifikasikan sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) , artinya OSPF mendistribusikan informasi routing protocol antar router termasuk ke sebuah autonomous system. protocol ini merupakan protocol routing link state (LS) hal ini akan melakukan update routing manakala menjumpai perubahan pada link atau topologi jaringan. perangkat router yang mendeteksi perubahan akan menghasilkan Link state Advertisment (LSA) yang berisi status link kemudian mengirimkannya ke router tetangga. 

Pada percobaan LAB 5 kali ini, topologi yang digunakan masih sama dengan Topologi sebelumnya (LAB 4 atau RIPv2), link nya bisa di klik disini. Namun, ada sedikit perbedaan yaitu untuk router yang terhubung ke router (Jakarta - bandung dan surabaya) menggunakan kabel FastEthernet sedangkan Lab 4 semuanya routernya menggunakan kabel serial serta topologi ini menerapkan routing protocol OSPF.


Gambar. Topologi Routing Protocol OSPF

Petunjuk 
  • Konfigurasi IP pada masing - masing interface sesuai dengan topologi di atas
  • Konfigurasi Routing Protocol OSPF
  • Konfigurasi IP loopback pada setiap router
  • Memberikan Bandwidth pada router Surabaya,Jakarta, dan bandung sebagai Perbandingannya 
  • Verifikasi unjuk kerja routing protocol OSPF 
Konfigurasi router (Rudi):


ip ospf 1 area 10 => Telihat dari gambar di atas bahwa interface S0/0 dengan IP 172.16.10.1 ditentukan dengan process-ID nya adalah 1. Proccess-id tersebut di mulai dari 1 s/d 65535 bilangan bulat positif. serta terdapat area 10, artinya routing protocol OSPF mengharuskan untuk memecah network menjadi beberapa area logika.

router ospf 1 => konfigurasi pada OSPF tidak memerlukan AS number (Autonomous System) seperti Routing protocol EIGRP , sebagai gantinya dibuatlah Proccess-ID (penomoran seperti AS number), misal : "router ospf 1" , yang dimulai dari 1 hingga 65535.

router-ID 1.1.1.1 => router ID (RID) merupakan identifikasi untuk setiap routernya. RID menggunakan IP tertinggi untuk setiap routernya (misal : dalam topologi ini saya menggunakan IP address 1.1.1.1 (router rudi), 2.2.2 (router fikri) , 3.3.3.3 (router surabaya), 4.4.4.4 (router bandung) dan 5.5.5.5 (router jakarta)), dalam hal ini router ID tertinggi adalah IP address 5.5.5.5.

int lo0 atau interface loopback 0 => interface loopback adalah sebuah interface logikal, yang pada dasarnya tidak ada atau bukan dalam bentuk interface fisik. Interface ini bertindak jika dalam kondisi tertentu Router ID tertinggi ( IP address 5.5.5.5) interfacenya mati atau bermasalah, maka perannya bisa digantikan oleh interface loopback.

jika masih bingung untuk perintah atau command yang lain misal "no shut" dll. Silahkan buka postingan saya yang sebelum2nya, linknya.

Konfigurasi router (Surabaya):



Perhatikan Garis kotak warna ungu ,Router surabaya sudah menjadi adjancency atau router OSPF akan menghubungkan diri dan saling berkomunikasi dengan router-router terdekatnya (Nbr atau Neighbor).

Interface FastEthernet 0/1 dengan IP 120.120.120.4  dan subnet mask 255.255.255.192, pada pendeklarasian networknya akan menjadi 120.120.120.0 0.0.0.63 area 0 , Perbedaannya 255.255.255.192 disebut subnet mask sedangkan 0.0.0.63 disebut wildcard mask. lantas wildcard mask 0.0.0.63 didapat dari mana..?
255.255.255.255   (32 bit angka biner 1 yang dikonversi ke desimal)
255.255.255.192    subnet mask   
------------------  -
      0. 0. 0. 63        wildcard mask  

beginilah cara OSPF mendefinisikan mask pada networknya.

int fa0/0 (Kabel yang terhubung Surabaya - jakarta) dengan bandwidth 102400 Kilobits (100 Mbits) dan int Fa0/1 (Kabel yang terhubung Surabaya - bandung) dengan bandwidth 10240 Kilobits (10 Mbits) => pada interface routernya diberikan bandwidth agar melihat cara kerja OSPF dengan rute yang dilalui ketika melakukan tes koneksi PING dan Tracerroute dari router rudi menuju router Fikri, apakah akan melalui jarak yang terdekat (router rudi - Surabaya - bandung - Fikri) atau berdasarkan bandwidth terbesarnya (router rudi - surabaya - Jakarta - bandung - fikri).

Konfigurasi Router (Jakarta) :



router-id  5.5.5.5 => pada topologi OSPF kali ini saya menempatkan router jakarta sebagai Router-ID terbesar dari semua router , namun tetap melibatkan interface loopback untuk mengantipasi jika link tersebut mati.
area 0 =>  network pada OSPF harus memiliki sebuah area khusus yang di sebut area 0 atau backbone area dan area yang lain harus terkoneksi ke area 0 sehingga semua traffic akan melalui area 0, sebenarnya tanpa area 0 pun jaringan itu tetap bisa di lalui namun untuk memudahkan semua traffic bisa terhubung/komunikasi maka dibuatlah area 0 sebagai backbonenya, alasan utama OSPF terbagi menjadi beberapa area adalah untuk menjaga performa.

Konfigurasi Router (Bandung) :



interface se0/2 dengan area nya 2 (router bandung - jakarta),  menunjukkan router yang terhubung dari router bandung ke router Fikri  berada pada wilayah area 2 a sedangakan interface yang lain berada di area backbone atau area 0.

Konfigurasi router (Fikri) :



Verifikasi
Tes Koneksi dari Router Rudi - Fikri :



Dari Router rudi melakukan tes koneksi , sehingga Garis Kotak berwarna biru menunjukan IP untuk interface Se0/0 dan Garis Kotak berwarna merah menunjukan IP loopback0  pada router Fikri dengan Pengiriman Success 100%.

ICMP atau Internet Control Message Protocol (Kotak gari Berwarna kuning) merupakan sebuah protocol untuk mengecek kesahalan atau keterhubungan dalam sebuah jaringan.

TraceRoute dari Router Rudi - Fikri :



Traceroute adalah perintah untuk rute yang melewati paket untuk mencapai tujuan (Router rudi - fikri), Berdasarkan hasil traceroute di atas terlihat bahwa Router rudi menuju router fikri paket yang dilewati akan melalui IP 172.16.10.10 (surabaya - int se0/2) , 100.100.100.2 (Jakarta - fa0/0) , 200.200.200.2 (bandung- fa0/0), kemudian ke tempat tujuan IP 192.168.20.1.

Garis Kotak berwarna ungu merupakan Hop count-nya dengan jumlah router 4 kali  lompatan menuju router Fikri , dengan ketentuan rudi - surabaya = 1 kali lompatan ,surabaya - jakarta = 1 lompatan , jakarta - bandung = 1 kali lompatan , dan bandung - fikri = 1 kali lompatan sehingga total lompatan 4 kali.

Penentuan Jalur Berdasarkan Cost 



Garis kotak berwarna hijau menunjukkan interface Fa0/0 dan Fa0/1 pada router surabaya, pada interface Fa0/0 memiliki Cost 1 (garis kotak warna merah) dan interface Fa0/1 memiliki cost 9, hal tersebut di dapat dari  untuk Fa0/0 denga cost 1 sbb :
Rumus , Cost = Reference / bandwidth                          *default, reference = 100000 Kbps
bandwidth = 102400 Kbps  (bandwidth di awal yang sebelumnya telah kita konfigurasi pada router surabaya dengan interface Fa0/0),
Cost = 100000 : 102400 = 1,024 dibulatkan menjadi 1 , sehingga cost bernilai 1

 untuk Fa0/1 denga cost 9 sbb :
bandwidth = 10240 Kbps (bandwidth yang sudah kita tentukan sebelumnya pada int fa0/1)
Cost = 100000 : 10240 = 9,76  dibulatkan menjadi 9, sehingga cost bernilai 9

semakin besar bandwidth yang dipakai interface maka semakin kecil nilai costnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa OSPF menggunakan Cost sebagai metricnya untuk menentukan jalur tujuannya.

Garis kotak berwarna biru menginformasikan hello paket dan dead intervalnya, Router ospf akan mengirim paket hello secara selang waktu tentu. kemudian router akan menunggu kedatangan paket hello selama batas waktu tertentu. selang waktu pengiriman  disebut sebagai hello interval sedangkan batas maksimal menunggu kedatangan disebut dead interval. pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa hello interval 10 detik. sedangkan dead intervalnya 40 detik. hasil dead intervalnya di dapat dari 4 x hello intervalnya (default).

Melihat Jalur routing :


Garis kotak berwarna orange menunjukkan jalur routing yang dilalui oleh routernya telah terkoneksi, kemudian dari tertulis "is directly conected, FastEthernet0/1" , artinya setiap router yang terhubung langsung (router surabaya & bandung) dengan router jakarta , maka jalur koneksinya secara langsung atau bisa di katakan jalur peer to peer.

Garis Kotak berwarna kuning  memperlihatkan bahwa routing protocol yang digunakan pada topologi jaringannya adalah OSPF dan OSPF inter area, maksudnya konfigurasi router masih dalam satu routing protocol area yang sama kecuali beda system maka yang digunakan adalah OSPF external atau routing protocol yang lain.

Garis Kotak berwarna ungu Menampilkan IP network 192.168.20.0 [110/65] via 200.200.200.2 , artinya rute yang menuju ke network 192.168.20.0 akan melalui / melewati jalur IP 200.200.200.2 dengan ketentuan nilai Administrative distance atau nilai kepercayaannya 110 dan metric nya 65.

Garis Kotak berwarna hijau "30.30.30.30" merupakan IP loopback nya, jadi jalur yang dilalui bukan hanya IP interface fisiknya aja namun bisa dilalui oleh jalur virtual yaitu loopback.

Monitoring DR dan BDR 

Designated Router atau DR adalah pusat informasi OSPF dalam jaringan tersebut. DR akan ditentukan di setiap area dengan router IP tertinggi. router ini akan mendistribusikan informasi routing ke luar maupun dalam area. sedangkan Back up Designated atau BDR merupakan back up atau cadangan dari DR , BDR akan bertindak jika terjadi masalah di DR atau linknya mati.

Hasil DR dan DBR sebelum dimodifikasi 

Router Bandung :


Router Surabaya :


Router Jakarta :



Untuk memudahkan dalam memahami hasil "Show IP ospf neighbor" atau penentuan DR dan DBR di atas dapat di lihat berdasarkan Gambar di bawah ini.



Gambar. Hasil DR dan DBR sebelum dimodifikasi dalam sebuah topologi

berdasarkan gambar di atas dapat di lihat bahwa yang menjadi DR adalah Router surabaya dengan interface Fa0/0 dan interface Fa0/1 serta int Fa0/1 pada router Jakarta, selebihnya menjadi DBR dan tanpa DR/DBR (FULL/-).

memodifikasi dan Menentukan konfigurasi DR dan DBR 

Router Surabaya :



Router Bandung :



Interface fa0/1 dan fa0/0 pada router surabaya dan bandung , prioritasnya di ubah menjadi 0 yang tadinya 1, karena secara default semua router akan memiliki nilai prioritas 1. range yang bisa diterapkan di mulai dari 0 hingga 255, nilai 0 sudah pasti akan menjamin router tersebut tidak akan menjadi  DR, dan semakin tinggi nilai prioritasnya maka semakin besar kemungkinan router tersebut akan di pilih sebagai DR.

Setelah ditentukan DR dan DBR  maka hasil yang didapat sebagai berikut :
Router Bandung :



Router surabaya :




Router Jakarta :


untuk memahami hasil dari penentuan dari DR dan DBR di atas silahkan liat topologi di bawah ini,
atau dengan topologi Setelah penentuan DR dan DBR :


Gambar. Hasil topologi Setelah penentuan DR dan DBR pada router

berdasarkan topologi di atas dapat di lihat bahwa router jakarta di jadikan sebagai DR , router ini akan menjadi informasi dan distribusi routing untuk semua routernya. sedangkan DROTHER, bukan sebagai DR/BDR sehingga semua informasi yang di distribusikan akan di serahkan atau di ambil ahli oleh router DR/BDR.

No comments:

Post a Comment